Hope ShelterOpini

Menuju Manusia yang Tidak Terbatas

Oleh Francis Situmorang

Satu sore di acara Soccer Day-nya Dream House Juli berkata bahwa ia akan menjadi pelayar kapal pesiar dan Dwi akan menjadi super bintang. Ini dua hal yang sangat hebat. Mendengar tentang bagaimana Dwi dan Juli telah merencanakan apa-apa saja yang akan mereka perbuat untuk menuju kesana semakin menajamkan kesimpulan saya bahwa hal-hal ini tidaklah mustahil. Potensi yang mereka punya membantu saya untuk melihat diri mereka bukan pada sosok yang hari ini, tapi sosok mereka di masa depan. Dwi dan Juli memilih untuk tidak menjadi orang yang biasa-biasa saja. Itu terpancar dari sorot mata dan suara mereka, tegas juga berkobar. Mereka seperti hendak mengatakan, ‘jangan katakan tak mungkin jika kita telah secara nyata melihat jejak-jejak kaki manusia di bulan!’

Sorot mata dan kemantapan suara Juli dan Dwi mengingatkan saya pada adik saya sendiri. Cen, begitu biasa saya menyapanya. Cen tak memiliki niatan untuk kuliah setamat dari SMA. Tapi, saya selalu mengingatkan jika ijazah sarjana sangat penting jika ia hendak melamar kerja. Karena melihat ia mampu menjadi dirinya ketika berada di bengkel motor, saya segera menduga bahwa pilihan kuliah di teknik mesin adalah jalan terbaik. Begitu menurut saya secara mantab. Saya paksa dia untuk belajar contoh-contoh soal Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun-tahun kemarin agar kampus negeri terbaik di propinsi kami mau menerimanya. Ia terlihat sedikit pening di depan buku-buku tadi.

Ketika tiba waktunya untuk memandikan motornya dan melihat bagian-bagian mana yang perlu dipoles lagi, Cen tampak sangat bergairah. Ia nyanyikan daftar-daftar lagu kesukaannya ketika memberi cairan pembersih ke motornya. Ia tersenyum melihat betapa bersih kini motornya. Ia memandangi dengan serius bagian mana yang tidak beres. Dan ia bercerita menyala-nyala tren-tren baru seputar dunia motor atau otomotif kepada saya setelahnya. Saya puas karena mampu menggiringnya untuk mengikuti ujian masuk universitas. Juga, merasa berhasil karena merasa jurusan teknik mesin adalah jalan terbaik untuk masa depannya. Dan mendadak, ia berhenti menyala-nyala ketika harus dihadapkan pada buku-buku persiapan ujian. Saya lagi-lagi mencoba memaksanya secara halus lewat kalimat-kalimat motivasi yang saya baca dari buku-buku pengembangan diri, bahkan kitab suci. Saya tahu, dia memaksa diri untuk tersenyum.

Hari ujian telah datang. Ia sempat terlihat pesimis. Seperti biasa, saya mendadak datang seperti seorang montir yang berusaha memperbaiki busi semangat motor yang mogok. Cen saya anggap motor itu sendiri. Ia akhirnya mengikuti ujian, menyelesaikan ujian dan menantikan hasil ujian. Ia terlihat seperti baru terbentur tiang listrik, pusing. Namun, ia mendadak ceria ketika melihat tetangga sebelah sedang memodifikasi motornya. Ia tiba-tiba saja lupa atas peningnya. Panadol di tangan jadi mubazir.

Hari pengumuman tiba. Ia sudah berfirasat. Tapi, lagi-lagi saya mencoba memperbaiki firasatnya ini seperti seorang montir. Ia cuma bisa diam. Sebuah surat kabar saya baca. Melihat secara cepat ke semua kolom. Lagi dan melihat lagi. Berulang kali. Da tak saya temukan namanya. Cen cuma bisa tersenyum, memberi semangat saya bahwa tahun depan ia akan mengikuti ujian lagi. Ia berjalan gagah mendapatkan motornya di bengkel kecil kami.

Tahun berikutnya masih dengan kisah yang sama. Saya paksa ia secara halus untuk membuka lagi buku-buku tadi dan mengikuti tes. Namun kali ini pilihannya menjadi lain. Ia tiba-tiba saja memilih untuk kuliah di jurusan sosial saja karena melihat standar nilai yang tinggi untuk masuk jurusan teknik. Kisah-kisah sukses dan peluang besar diterima dibanyak perusahaan untuk lulusan jurusan komunikasi menjadi cerita-cerita saya padanya. Saya mulai mengendalikannya, memberinya harapan. Cen menerima.

Lagi-lagi, itulah kebodohan saya untuk tak mau menyadarinya dan terlampau memberi gambaran cerah masa depan mengenai baik dan hebatnya untuk berkarya di jalur ilmu sosial ini. Padahal, sekali lagi, minat dan bakatnya tidak di situ. Saya terlampau memaksakan mimpi saya sendiri yang tertunda dalam pikiran-pikirannya. Padahal, lagi-lagi, ia tak mencondongkan minat dalam bidang ini. Begitulah. Sama seperti tahun lalu, hasilnya masih sama. Ia belum diterima di perguruan tinggi negeri di propinsi kami. Dan kali ini saya hendak berkata bahwa bukan dirinya serta mimpinya yang gagal, namun mimpi sayalah yang gagal. Saya menyadari keegoisan diri dengan tak membiarkannya bebas bergerak. Saya menyesal tak meyakini ketakterbatasannya.

Cen tak larut begitu lama. Beberapa waktu setelah pengumuman itu, ia mengumumkan pada keluarga bahwa mimpinya yang hebat itu akan dimulai dari Jepang, sekalipun ia tak mengantongi gelar sarjana. Sadar akan apa yang menjadi tekadnya, kegigihan untuk mencari sumber-sumber informasi yang bisa menghantarkannya kesana mulai terbangun. Ia datangi mereka-mereka yang pernah berkarya disana dan menghujani mereka dengan banyak pertanyaan. Matanya terbakar. Api antusiasme yang membakarnya. Lewat Facebook dan banyak cara lainnya ia tanyai mereka satu per satu. Semua informasi ia kumpulkan, ia ramu. Ia mencoba melihat pola dan formula bagaimana orang-orang ini bisa pergi ke Jepang, bahkan bisa menetap disana. Dan jalan pertama untuk menuju ke tanah impiannya mulai terbuka. Dengan ketrampilan yang dimiliki, ia daftarkan diri pada satu tempat kursus montir di daerah kami guna mendapatkan sertifikat sebagai modal awal untuk mimpi hebat itu. Betul saja, seorang diri ke ibu kota propinsi kami, ia datangi lokasi-lokasi yang memiliki kaitan dengan tanah impian itu. Sampai lagi ia putuskan untuk melebur dalam satu balai latihan kerja di ibu kota propinsi kami, Bandar Lampung, selama beberapa bulan. Kemampuan berbahasa Jepangnya yang sangat memprihatinkan rupanya tak sanggup meruntuhkan optimismenya yang waktu itu sedang menyala-nyala.

Siang-malam ia asyik bergelut pada huruf-huruf Hiragana, Katakana dan Kanji. Ia juga buat metode mudah untuk menghapal beberapa ratusan kosakata Jepang. Ia bahkan juga masih sempatkan diri untuk tak hanya memperdalam pengetahuannya, tapi juga melatih fisiknya. Berlari di stadion sepak bola, push-up dan sit-up ratusan kali dengan nafas satu dua. Tak juga itu, ia pun tetap menjaga hubungan personal dengan Tuhan. Semua ini ia perbuat demi menghebatkan diri, demi memantaskan diri untuk impian yang hebat itu juga. Ini tentang kepantasan terhadap mimpi yang tak biasa itu.

Hari tes tiba. Dinas tenaga kerja propinsi kami yang menyelenggarakannya. Ia tampak begitu bersemangat. Namun sayangnya, hasilnya tak sesemangat ia. Cen dianggap belum layak untuk lolos. Merasa bahwa inilah permulaan dari mimipi hebatnya, ia tak muram atas keputusan ini. Ia bercerita bahwa banyak rekannya yang sudah lima, bahkan delapan kali baru bisa lolos ke peluang ini. Tekadnya membesar untuk maju kembali di tahun depan, dengan tetap menjaga pola belajar dan mencoba membenahi di bagian-bagian mana saja ia perlu banyak latihan. Tuhan itu adil. Ia selalu melihat dan merestui usaha-usaha ciptaan-Nya yang betul-betul berjuang untuk kebaikannya dan orang lain. Tidak sekedar berdoa dan minim upaya.

Ini adalah dua setengah tahun Cen disana, Negeri Sakura, yang menempanya menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh. Kegigihan, kejujuran dan penghormatan terhadap sesama yang dipancarkan budaya Jepang dalam setiap aktifitas mereka sangat menginspirasi Cen. Ia belajar banyak dari hal-hal ini dan kelak mampu menjadi modal atau persiapan berharga untuk masuk ke dunia bisnis. Sebuah dunia yang sangat ia idamkan, ia impikan, ia doakan, ia ceritakan, juga ia perjuangkan. Berawal dari perjumpaan dengan sebuah motor yang pernah menemani waktu-waktunya, impian untuk membuat bengkel otomotif besar  itu muncul. Dan buatnya, hal itu sangat mungkin. Impian yang mewujud menjadi nyata hanya untuk mereka yang berani. Dan mereka yang berani adalah mereka yang meyakini sifat impemanen (kesementaraan), bahwa mustahil itu tidak ada, dan mungkin (untuk diwujudkan) itu pasti. Sebuah perjuangan memang bukanlah satu jaminan pada munculnya perubahan. Tapi, bukankah perubahan tak akan pernah muncul jika tak dilalui lewat perjuangan itu sendiri. Inilah makna tak terbatas itu sendiri. Mendoakan apa yang diperjuangkan dan memperjuangkan apa yang didoakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *