Ketika Empati Menjadi Ruang Aman: Belajar Mendengarkan di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta

Kader Sekolah

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, empati sering kali perlahan menghilang tanpa disadari.

Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh bersama gawai, notifikasi, dan arus media sosial yang tidak pernah berhenti. Komunikasi menjadi semakin instan, tetapi kedekatan emosional justru sering terasa jauh. Di lingkungan sekolah, ada banyak momen kecil yang sebenarnya membutuhkan kepedulian, namun kerap terlewati begitu saja.

Berangkat dari kenyataan tersebut, kegiatan Teman dan Sahabat: Membangun Empati dilaksanakan di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta pada 20 Mei 2026 sebagai bagian dari penguatan kader perlindungan anak. Kegiatan ini menghadirkan 14 siswa dalam sebuah ruang belajar reflektif tentang bagaimana menjadi teman yang aman bagi sesama.

Diskusi tidak dimulai dari teori yang rumit, melainkan dari pengalaman sehari-hari yang dekat dengan kehidupan peserta. Tentang teman yang sedang kesulitan tetapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa, tentang seseorang yang diam-diam merasa sendirian di tengah keramaian sekolah, atau tentang bagaimana respon kecil dari teman sebaya bisa sangat berarti bagi seseorang.

Dalam sesi ini, peserta juga diajak memahami konsep active listening berdasarkan pendekatan Carl Rogers. Mendengarkan bukan hanya tentang diam saat orang lain berbicara, tetapi tentang hadir sepenuhnya, memberi ruang aman, dan mencoba memahami tanpa menghakimi.

Suasana yang awalnya dipenuhi tawa dari sesi ice breaking perlahan berubah menjadi percakapan yang lebih dalam. Peserta mulai berbagi cerita, mendengarkan satu sama lain, dan merefleksikan bagaimana mereka dapat menjadi teman sebaya yang lebih peduli di lingkungan sekolah.

Bagi Yayasan Rumah Impian Indonesia (YRII), perlindungan anak tidak hanya berbicara tentang penanganan ketika kekerasan sudah terjadi. Perlindungan anak juga dimulai dari membangun lingkungan yang membuat anak merasa aman secara emosional. Lingkungan di mana anak tahu bahwa ada teman yang mau mendengar, memahami, dan menemani.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan YRII dalam membangun ruang ramah anak dan memperkuat partisipasi anak sebagai agen perubahan di komunitasnya sendiri. Nilai yang sama juga hadir dalam berbagai kegiatan sebelumnya, seperti forum pembelajaran hak anak maupun kegiatan berbasis interaksi dan permainan yang memperkuat rasa kebersamaan antar anak.

Pada akhirnya, empati mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang anak yang merasa tidak terlihat, satu teman yang benar-benar peduli bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.