Sabtu, 25 April 2026 menjadi hari yang penuh warna bagi anak-anak di Children Crisis Center yang dikelola oleh Yayasan Rumah Impian Indonesia. Hari itu bukan sekadar kunjungan biasa. Ia menjadi ruang perjumpaan—antara kepedulian dan harapan, antara pelayanan dan kasih yang diwujudkan secara nyata.
Sebanyak kurang lebih 30 mahasiswa dari PMK FEB UGM hadir bersama 14 anak Children Crisis Center, didampingi oleh 4 orang pendamping dari Yayasan Rumah Impian Indonesia. Dalam kebersamaan itu, tercipta suasana hangat yang sederhana namun penuh makna.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bakti sosial yang dipadukan dengan ibadah dan perayaan Paskah. Namun lebih dari itu, momen ini adalah sebuah refleksi iman—bahwa kasih tidak berhenti pada kata, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam setiap permainan, dalam setiap tawa yang pecah, dan dalam setiap hadiah yang dibagikan, hadir pesan tentang pengharapan dan kehidupan baru yang menjadi inti dari perayaan Paskah.
Anak-anak diajak untuk bermain, tertawa, dan berinteraksi secara bebas. Mereka tidak hanya menjadi penerima kegiatan, tetapi juga menjadi subjek yang aktif—didengar, dihargai, dan dirayakan keberadaannya.
Di sinilah kita melihat bahwa kegiatan sederhana ini sesungguhnya memiliki makna yang lebih dalam: sebuah upaya nyata dalam pemenuhan hak-hak dasar anak.
Hak untuk bermain hadir dalam setiap permainan yang membebaskan ekspresi dan kreativitas mereka.
Hak untuk tumbuh dan berkembang terwujud melalui interaksi yang membangun rasa percaya diri dan relasi yang sehat.
Hak untuk mendapatkan perlindungan tampak dalam ruang aman yang penuh perhatian dan pendampingan.
Hak untuk didengar dan dihargai terlihat ketika setiap anak diterima apa adanya, dengan cerita dan latar belakangnya masing-masing.
Bagi Yayasan Rumah Impian Indonesia, kolaborasi seperti ini adalah bagian penting dari upaya berkelanjutan dalam menghadirkan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak-anak yang berada dalam situasi rentan. Sementara bagi PMK FEB UGM, ini adalah bentuk ibadah yang hidup—di mana iman diterjemahkan menjadi kasih yang menyentuh kehidupan sesama.
Perayaan Paskah kali ini mengingatkan kita bahwa kebangkitan tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dihidupi dalam tindakan. Bahwa harapan dapat tumbuh di tengah keterbatasan, dan kasih dapat menjembatani berbagai perbedaan.
Dan di antara tawa anak-anak hari itu, kita melihat secercah masa depan—yang dijaga, dilindungi, dan diperjuangkan bersama.
