CeritaDream Campaign

Herdy dan Kekuatan untuk Tidak Menyerah pada Mimpi

Halo kakak-kakak dan teman-teman semua, perkenalkan, nama saya Herdy. Saya berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ini adalah cerita singkat yang ingin saya bagikan kepada teman-teman semua mengenai salah satu kisah hidup yang saya lalui dalam perjalanan menggapai cita-cita. Semoga di akhir tulisan ini, ada hal baik yang dapat saya berikan lewat cerita yang saya miliki kepada teman-teman semua.

Saya merupakan seorang lulusan salah satu SMA di Kupang. Berasal dari keluarga yang sangat sederhana, saya lahir, dibesarkan, dan menempuh pendidikan hingga tingkat akhir di kampung halaman. Selepas saya menyelesaikan pendidikan menengah atas (SMA), ada kerinduan besar bagi saya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau berkuliah. Sejak menjalani kehidupan SMA, saya sudah bercita-cita dan bertekad dalam hati untuk dapat berkuliah di jurusan Ilmu Teologia, jurusan yang saya impikan sejak lama. Namun, menyadari bahwa keluarga saya tak akan mampu membiayainya, niat itu perlahan saya coba pendam dan lupakan. Alih-alih menemukan perguruan tinggi yang tepat sesuai keinginan dan cita-cita saya, saya memilih untuk membantu ibu bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga selepas kelulusan saya dari SMA.

 

Herdy (pertama dari kanan) bersama dengan anak-anak dampingan lain di Kupang

Ketabahan dan kesabaran adalah sesuatu yang saya pegang setelah memendam cita-cita untuk berkuliah. Setiap harinya, ketika saya melihat teman-teman dan orang lain seusia saya yang mampu berkuliah, ada rasa sedih dan kecewa yang terus-menerus saya pendam. Dalam kesabaran itu pula saya terus berdoa kepada Tuhan dan menyerahkan segala pergumulan yang saya hadapi sembari terus menjalani hidup yang telah saya pilih. Meski saya tahu kesempatan dan kemungkinan untuk saya dapat berkuliah sangatlah kecil, salah satu kutipan yang berbunyi “Ketika kita berdoa dan berseru kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan menjawab doa kita” seakan menguatkan saya untuk tidak sepenuhnya melepas cita-cita dan harapan saya akan masa depan. Saya percaya bahwa masa depan sungguh ada dan Tuhan memegang segala harapan yang saya tuturkan dalam setiap doa. Meski belum tiba saatnya, saya percaya Ia akan memberikan saya yang terbaik sesuai waktu-Nya.

Doa itu terjawab ketika saya bertemu dengan orang-orang — kakak-kakak yang luar biasa di tahun 2020. Doa yang saya panjatkan kepada Tuhan seakan terjawab dalam pertemuan yang tidak pernah saya duga akan terjadi sebelumnya.  Pertemuan di tahun itu memberikan saya kesempatan untuk mengenal banyak orang baik yang melihat cita-cita saya untuk berkuliah sebagai sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan.

Herdy dalam kegiatan belajar bersama para pendamping Rumah Impian Kupang

Mereka yang menyebut dirinya sebagai komunitas bernama Rumah Impian Kupang berusaha mengenal saya dan kemudian membantu saya untuk dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi sesuai dengan yang saya cita-citakan. Pertemuan itu berlanjut dengan ajakan mereka untuk mendaftarkan saya ke dalam salah satu program pendidikan Ilmu Teologia di salah satu perguruan tinggi Kristen di Kota Kupang. Saya begitu bersyukur dan bahagia ketika mengetahu impian saya melanjutkan pendidikan tidak benar-benar berakhir. Di tengah segala kemungkinan bagi saya untuk hidup dalam kepasarahan dan menerima nasib untuk melupakan mimpi yang saya punya sejak lama, Tuhan dengan kebaikan-Nya memberi saya kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang baru.

Tidak berhenti disitu, keajaiban Tuhan kembali saya rasakan setelah menerima kabar bahwa biaya pendidikan yang akan saya lalui di perguruan tinggi akan ditanggung secara penuh oleh yayasan pengelola hingga akhir masa stu di saya. Hal itu membuat saya dan keluarga tidak lagi perlu memikirkan cara untuk membayar segala kebutuhan kuliah dan hidup selama saya menempuh pendidikan nanti.

Setelah masa pendaftaran selesai, hal selanjutnya yang harus saya lakukan adalah pindah ke dalam asrama dan tinggal disana. Meski awalnya saya berpikir bahwa kehidupan asrama itu asyik dan menyenangkan, kenyataan ketika saya menjalaninya sungguh berbeda. Ada cukup banyak proses menyakitkan yang harus saya lewati setelah pindah ke dalam asrama seperti bagaimana saya harus memulai hidup disiplin dan penuh dengan berbagai aturan yang mengikat. Meski awalnya berat, saya selalu mengingat bagaimana baiknya Tuhan dalam hidup saya. Tuhan selalu memberi kekuatan kepada saya dan saya selalu mendapatkan motivasi dari orang-orang disekitar yang pada akhirnya membantu saya untuk dapat bangkit dan berjuang untuk meraih cita-cita dan impian saya,

Ketika kita menginginkan sesuatu, hal itu akan selalu datang tanpa kemudahan. Selalu ada sederet proses yang harus kita lalui hingga segala tujuan dan keinginan dapat tercapai.

Kalimat lain yang selalu memberi saya kekuatan ketika merasa lemah dan sukar untuk melalui jalan hidup adalah:

“Hidup itu selalu membutuhkan perjuangan dan proses.

Mie instan sekalipun membutuhkan proses dari pembuatan hingga dapat dihidangkan apalagi hidup yang kita jalani.

Jika kita ingin mengejar atau meraih cita-cita, maka kita harus mengawalinya dengan perjuangan dan proses yang menempatkan doa sebagai pondasi utama. Tanpa doa, semuanya sungguh akan sia-sia.”

Di akhir cerita ini, saya ingi berpesan pada teman-teman dan seluruh pejuang mimpi di luar sana, tetaplah semangat dan jangan pernah menyerah. Peganglah cita-citamu dengan teguh dan yakinlah pada segala kemungkinan yang ada untuk meraihnya. Tuhan menyertai teman-teman sekalian.

 

 

Penulis: Herdy
Penyunting: Rico Tamara S.
Gambar & Dokumentasi: Mellissa Ledo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *