Ada banyak hal yang terjadi di sekolah setiap hari. Ada tawa di antara teman-teman, percakapan di lorong depan kelas, pesan yang masuk melalui telepon genggam, dan berbagai cerita yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang dewasa.
Namun, di balik keseharian itu, bisa saja ada seorang anak yang sedang menghadapi sesuatu yang tidak mudah. Ada anak yang mungkin mengalami perundungan, menerima ancaman melalui media sosial, mengalami kekerasan di rumah, atau yang memilih diam karena tidak tahu kepada siapa harus bercerita.
Karena itu, perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab orang dewasa. Anak dan remaja juga dapat mengambil bagian dengan menjadi teman yang peduli, mampu mengenali tanda-tanda kekerasan, dan tahu bagaimana mencari bantuan ketika melihat situasi yang tidak aman.
Semangat inilah yang menjadi bagian dari Pelatihan Kader Perlindungan Anak di Sekolah yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Impian Indonesia pada Rabu, 2 September 2026, di SMK Bopkri 1 Yogyakarta.
Kegiatan ini diikuti oleh 15 siswa calon kader perlindungan anak dari SMK Bopkri 1 Yogyakarta serta empat siswa peserta Rotary Youth Exchange Yogyakarta. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Rotary Club of Jogja Merapi (RCJ Merapi) sebagai bagian dari kolaborasi dalam memperkuat upaya perlindungan anak dan partisipasi anak di lingkungan sekolah, seperti yang disampaikan oleh Presiden RCJ Merapi, Sammy Ladh.
Mengenali Kekerasan yang Sering Tidak Terlihat
Salah satu pembahasan utama dalam pelatihan adalah mengenai berbagai bentuk kekerasan yang dapat dialami oleh anak dan remaja.
Peserta diajak mengenali kekerasan fisik, seperti memukul, menendang, atau mendorong. Mereka juga belajar bahwa kekerasan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat.
Kekerasan psikis dapat hadir melalui penghinaan, intimidasi, ancaman, pengucilan, atau kata-kata yang terus-menerus membuat seseorang merasa tidak berharga.
Ada pula kekerasan seksual, termasuk pelecehan, eksploitasi seksual daring, dan grooming. Di tengah perkembangan teknologi, peserta juga diajak memahami cyberbullying sebagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi melalui media digital, mulai dari penghinaan dan penyebaran rumor hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin.
Pembahasan menjadi semakin dekat dengan kehidupan remaja karena sebagian bentuk kekerasan tersebut dapat terjadi di ruang yang mereka gunakan setiap hari: sekolah, pertemanan, dan media sosial.
Ketika Kekerasan Mengubah Cara Seseorang Melihat Dirinya
Dalam sesi ini, peserta juga diperkenalkan pada pemikiran Viktor Frankl tentang logoterapi dan hubungan antara pengalaman traumatis dengan pencarian makna hidup.
Kekerasan tidak hanya dapat melukai tubuh. Pengalaman kekerasan juga dapat memengaruhi cara seorang anak melihat dirinya sendiri, orang lain, bahkan masa depannya.
Seorang anak yang terus-menerus dihina mungkin mulai percaya bahwa dirinya memang tidak berharga. Anak yang mengalami perundungan dapat merasa tidak memiliki tempat yang aman. Sementara korban kekerasan seksual dapat mengalami kehilangan kendali dan kesulitan memahami kembali nilai dirinya.
Dalam perspektif Frankl, manusia memiliki kemampuan untuk menemukan makna bahkan ketika menghadapi penderitaan. Bagi anak yang mengalami kekerasan, proses tersebut tentu membutuhkan dukungan dan lingkungan yang aman.
Karena itu, pemulihan tidak seharusnya dijalani sendirian. Kehadiran teman yang mau mendengarkan, guru yang dapat dipercaya, keluarga, pendamping, dan lingkungan yang aman dapat menjadi bagian penting dalam membantu seorang anak kembali menemukan harapan.
Belajar dari Kasus, Bukan Sekadar Teori
Pelatihan tidak berhenti pada pemaparan materi. Para peserta diajak menganalisis berbagai studi kasus mengenai kekerasan pada anak. Mereka belajar mengidentifikasi jenis kekerasan yang terjadi, memahami dampaknya, serta mendiskusikan bagaimana memberikan dukungan yang tepat.
Diskusi kelompok juga membuka ruang bagi peserta untuk membicarakan pengalaman yang mereka lihat atau dengar di sekitar mereka.
Namun, percakapan mengenai kekerasan dilakukan dengan hati-hati. Peserta diingatkan bahwa ketika berbicara mengenai pengalaman traumatis, hal yang paling penting bukanlah memaksa seseorang untuk bercerita, melainkan menciptakan rasa aman dan menghargai batas pribadi.
Dari sini, peserta belajar bahwa menjadi kader perlindungan anak bukan berarti harus menjadi “penyelamat” bagi semua orang.
Kadang-kadang, menjadi teman yang aman berarti cukup dengan mendengarkan, tidak menghakimi, menjaga kerahasiaan dengan tepat, dan membantu teman menemukan orang dewasa atau layanan yang dapat memberikan pertolongan.
Belajar Melihat Tanda-Tanda yang Sering Terlewatkan
Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah mengenali tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bahwa seorang anak sedang mengalami kekerasan.
Perubahan perilaku yang drastis, ketakutan yang berlebihan, menarik diri dari pergaulan, perubahan emosi, atau cedera fisik yang mencurigakan dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Namun, satu tanda saja tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami kekerasan. Karena itu, peserta diajak untuk tidak terburu-buru menyimpulkan atau menuduh. Yang lebih penting adalah belajar untuk peka, peduli, dan tahu kapan harus mencari bantuan.
Kemampuan sederhana untuk memperhatikan perubahan pada seorang teman dapat menjadi langkah awal yang sangat berarti.
Anak Bukan Hanya Penerima Perlindungan
Bagi Yayasan Rumah Impian Indonesia, membangun perlindungan anak berarti juga memberikan ruang kepada anak untuk berpartisipasi.
Anak dan remaja bukan hanya pihak yang perlu dilindungi. Mereka juga memiliki suara, pengalaman, dan kemampuan untuk ikut menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Pelatihan kader perlindungan anak di sekolah menjadi salah satu cara untuk memperkuat peran tersebut. Dengan pengetahuan yang tepat, para siswa diharapkan mampu menjadi bagian dari budaya sekolah yang lebih peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan teman sebaya.
Sebab, sekolah yang aman tidak hanya dibangun melalui aturan. Sekolah juga dibangun melalui hubungan antarmanusia—ketika siswa berani mengatakan bahwa kekerasan bukan sesuatu yang wajar, ketika seorang teman berani meminta bantuan, dan ketika ada orang lain yang memilih untuk tidak diam.
Berani Peduli, Berani Melindungi
Pada akhirnya, menjadi kader perlindungan anak bukan tentang memiliki semua jawaban.
Ini tentang keberanian untuk memperhatikan. Keberanian untuk mendengarkan. Dan keberanian untuk mengatakan, “Kamu tidak sendirian.”
Melalui kolaborasi antara Yayasan Rumah Impian Indonesia, SMK Bopkri 1 Yogyakarta, para siswa Rotary Youth Exchange Yogyakarta, dan dukungan Rotary Club of Jogja Merapi, kegiatan ini menjadi sebuah langkah kecil untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah bagi anak.
Karena perlindungan anak bukan hanya tentang menghentikan kekerasan setelah terjadi. Perlindungan anak juga dimulai dari menciptakan lingkungan di mana setiap anak merasa dilihat, didengar, dihargai, dan memiliki tempat untuk mencari pertolongan. Dan mungkin, perubahan itu bisa dimulai dari seorang siswa yang memilih untuk peduli.
