Pada Kamis, 5 Februari 2026, Yayasan Rumah Impian Indonesia menyelenggarakan pembekalan internal bertajuk “Pendekatan Seorang Teman”. Kegiatan ini diikuti oleh 14 fasilitator dan pendamping yang selama ini terlibat langsung dalam proses pendampingan anak-anak dan komunitas rentan. Pembekalan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk kembali pada nilai-nilai dasar yang menjadi jati diri Rumah Impian.
Bekerja bersama manusia—terutama mereka yang hidup dalam kerentanan—menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis atau keberhasilan program. Ia menuntut hati yang terus diperbarui, cara pandang yang dijaga, dan relasi yang dirawat. Karena itu, pembekalan ini dirancang untuk menyegarkan kembali visi, misi, serta nilai-nilai pendampingan yang selama ini dihidupi.
Setiap Manusia Berharga dan Layak Diperjuangkan
Rumah Impian meyakini bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat dan harapan yang layak diperjuangkan secara utuh. Pendampingan tidak pernah dimulai dari kekurangan anak, melainkan dari pengakuan bahwa mereka berharga. Dalam pembekalan ini kembali ditegaskan bahwa pendamping tidak boleh—dalam bentuk apa pun—merendahkan martabat anak dampingan, baik melalui kata-kata, sikap, maupun keputusan yang diambil atas nama kebaikan.
Pendamping hadir bukan sebagai pihak yang “lebih tahu” atau “lebih benar”, melainkan sebagai sesama manusia yang berjalan bersama dalam proses hidup.
Relasi Lebih Penting daripada Program
Salah satu penegasan utama dalam pembekalan ini adalah bahwa relasi lebih penting daripada program. Program dapat dirancang dengan baik dan target dapat dicapai, tetapi perubahan yang bermakna hanya lahir dari relasi yang aman, setara, dan penuh kepercayaan.
Pendekatan Seorang Teman menempatkan relasi manusia sebagai pusat pendampingan. Anak tidak diposisikan sebagai objek intervensi, melainkan sebagai subjek yang dilibatkan, didengar, dan dihargai. Dari relasi inilah proses transformasi perlahan bertumbuh.
Keberpihakan pada yang Rentan sebagai Pilihan Etis
Dalam realitas pendampingan, netralitas sering kali tidak benar-benar netral. Ketika berhadapan dengan kerentanan, Rumah Impian memilih untuk berpihak. Keberpihakan kepada anak-anak dan keluarga rentan dipahami sebagai pilihan etis, bukan sikap emosional.
Keberpihakan ini menuntut keberanian untuk hadir secara konsisten, sekalipun prosesnya panjang dan tidak selalu nyaman. Pendamping diajak untuk melihat proses hidup setiap orang secara utuh, tanpa menghakimi, dan tanpa tergesa-gesa menuntut perubahan instan.
Kasih sebagai Komitmen dan Persahabatan yang Setara
Pembekalan ini juga memperdalam pemahaman tentang kasih sebagai komitmen. Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan sadar untuk mengupayakan kebaikan orang lain—dengan kesetiaan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Dalam Pendekatan Seorang Teman, relasi persahabatan dibangun secara setara. Tidak ada relasi atas–bawah. Pendamping dan anak adalah sesama manusia yang saling belajar dan bertumbuh. Karena itu, menjaga batas (boundaries) yang sehat juga menjadi bagian penting dari etika pendampingan, agar relasi tetap aman dan bertanggung jawab.
Belajar Tidak Menghakimi, Melainkan Memahami Proses
Melalui diskusi dan refleksi, para peserta mengangkat tantangan nyata dalam pendampingan, salah satunya kecenderungan untuk menghakimi ketika perubahan tidak terlihat cepat. Pembekalan ini mengajak para pendamping untuk belajar melihat proses, bukan hanya hasil.
Setiap anak dan keluarga memiliki perjalanan yang unik. Tugas pendamping bukan mempercepat proses secara paksa, melainkan setia menemani, mendengarkan, dan menaruh harapan—bahkan ketika perubahan yang terjadi masih kecil dan perlahan.
Penguatan bagi Para Pendamping
Berbagai refleksi peserta menunjukkan bahwa pembekalan ini bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga meneguhkan kembali panggilan sebagai pendamping. Pendekatan Seorang Teman dipahami sebagai identitas khas Rumah Impian: hadir sebagai sahabat yang aman, tidak menguasai, tidak menghakimi, tetapi konsisten berjalan bersama.
Pembekalan ini menjadi pengingat bahwa tujuan akhir pendampingan bukanlah keberhasilan program semata, melainkan hidup yang tertransformasi—baik anak-anak yang didampingi, maupun para pendamping itu sendiri.
