“Speak Up! Bersama Kita Bisa”: Kampanye Anti-Bullying di SMK Bopkri 1 Yogyakarta

Sebagai bentuk perlawanan terhadap perilaku perundungan, sebanyak 150 siswa SMK Bopkri 1 Kota Yogyakarta berpartisipasi aktif dalam kegiatan kampanye “Bersama Kita Bisa: Stop Bullying, Bangun Sekolah Aman dan Nyaman” pada Selasa, 9 Desember 2025. Acara yang digelar di Aula sekolah ini sukses meningkatkan kesadaran dan membekali siswa dengan keterampilan praktis untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah mereka.

Menjawab Permasalahan yang Mendesak

Kegiatan ini digelar merespons data yang mengkhawatirkan. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 37% siswa SMA/SMK di wilayah tersebut mengaku pernah mengalami bullying, baik secara verbal, sosial, fisik, maupun cyber. Kampanye ini bertujuan mengubah peran siswa dari bystander (penonton pasif) menjadi upstander (pelaku tindakan aktif pencegahan).

Sesi Interaktif dan Pembelajaran Praktis

Selama dua jam, acara diisi dengan beragam aktivitas interaktif yang dirancang untuk memberikan dampak maksimal:

  • Memahami Bullying:Acara dibuka dengan pemaparan materi oleh Kak Endang Z, yang menjabarkan berbagai bentuk bullying—fisik, verbal, sosial, dan cyber—serta dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan mental dan prestasi belajar.
  • Diskusi Kelompok:Difasilitasi oleh 10 fasilitator, siswa terlibat dalam diskusi mendalam, berbagi perspektif, dan merancang solusi atas berbagai skenario perundungan.
  • Presentasi Rencana Aksi:Salah satu puncak acara adalah presentasi rencana aksi anti-bullying sederhana yang dibuat oleh para siswa. Tiga kelompok terpilih sebagai terbaik berdasarkan ide dan presentasi mereka.
  • Komitmen Bersama:Acara ditutup dengan deklarasi komitmen bersama yang dipimpin oleh MC, Kak Sekar Naffa, di mana seluruh 150 peserta berjanji untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman.

Output Nyata dan Bentuk Apresiasi

Kegiatan ini menghasilkan sejumlah output konkret. Sepuluh rencana aksi anti-bullying berhasil dirumuskan oleh kelompok siswa. Peserta teraktif mendapatkan reward tumbler sebagai apresiasi atas kontribusi mereka.

“Bullying tidak hanya menyakiti korbannya, tapi merusak rasa aman dan nyaman seluruh komunitas sekolah. Hari ini kita belajar bahwa setiap orang punya peran. Kita bisa memilih untuk menjadi upstander—dengan bersuara, mendukung korban, atau melaporkan pada orang dewasa yang tepercaya,” ujar salah seorang siswa peserta.

Langkah Awal Menuju Budaya Sekolah yang Empatik

Kampanye anti-bullying di SMK Bopkri 1 ini menjadi langkah nyata dalam pendidikan karakter yang proaktif. Dengan memberdayakan siswa melalui pengetahuan dan strategi praktis, acara ini menanamkan benih bagi terciptanya budaya sekolah yang lebih empatik, saling menghargai, dan bebas dari perundungan. Komitmen yang ditunjukkan oleh 150 calon upstander muda ini menjanjikan masa depan lingkungan pendidikan mereka yang lebih cerah dan aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.