Belajar Mendengar Lebih Dalam: In-House Training Dengan BILINE Growth

Ada hari-hari tertentu yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Tanggal 10 Maret 2026 menjadi salah satu hari itu bagi seluruh tim Yayasan Rumah Impian Indonesia.

Hari itu bukan sekadar pelatihan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, merefleksikan cara bekerja, dan belajar untuk hadir lebih utuh—bagi anak-anak, bagi sesama tim, dan bagi setiap cerita yang didampingi.

Ruang Belajar yang Jujur

In-house training ini difasilitasi oleh tim dari Yayasan Bijaksana Lintas Negeri (Biline Growth), dengan kehadiran langsung Brynerio S.T., PCC selaku Founder & Commissioner Biline Group, serta Edwin C Tedjososrokuntjoro S.T. sebagai Chief Operating Officer.

Sejak awal sesi, suasana terasa berbeda. Tidak ada jarak antara fasilitator dan peserta. Yang ada justru percakapan yang jujur—tentang bagaimana melihat, menilai, dan memahami orang lain.

Salah satu pembelajaran yang paling membekas adalah tentang perbedaan antara assessment dan assertion. Banyak dari kami menyadari bahwa selama ini, tanpa sadar, kami sering mencampur keduanya.

  • Assessment adalah penilaian yang dipengaruhi oleh persepsi, emosi, dan sudut pandang pribadi.
  • Assertion adalah pernyataan berbasis fakta yang dapat diuji benar atau salah.

Perbedaan sederhana ini ternyata membawa dampak besar. Dalam pekerjaan sosial, ini berarti belajar untuk tidak terburu-buru menilai klien hanya dari apa yang tampak di permukaan, dan mulai lebih peka terhadap konteks serta lingkungan yang membentuk mereka.

Mengenal Diri, Memahami Sesama

Pelatihan ini juga membawa kami pada sebuah cermin: Matrix Persepsi Perilaku. Di dalamnya, setiap individu diajak mengenali kecenderungan peran dalam bekerja:

  • Promotor – penuh ide dan energi
  • Supporter – menjaga relasi dan kepedulian
  • Controller – tegas dan berorientasi pada hasil
  • Analyzer – teliti dan berbasis data

Menariknya, tidak ada satu tipe yang lebih baik dari yang lain. Sebaliknya, kami belajar bahwa tim yang kuat justru lahir dari keberagaman cara berpikir dan bekerja.

Dalam sesi refleksi, beberapa peserta menemukan bahwa bagaimana mereka melihat diri sendiri tidak selalu sama dengan bagaimana orang lain melihat mereka. Dan di situlah pembelajaran yang sebenarnya terjadi—di ruang antara persepsi dan kenyataan.

Tentang Emosi dan Kebutuhan

Sesi berikutnya membawa kami lebih dalam lagi—ke wilayah yang sering kali kita hindari: emosi. Kami diajak memahami bahwa:

  • Kesedihan muncul ketika sesuatu yang penting hilang
  • Ketakutan muncul ketika ada ancaman kehilangan

Pemahaman ini sederhana, tetapi membuka perspektif baru dalam mendampingi anak-anak dan keluarga. Bahwa di balik setiap perilaku, selalu ada kebutuhan yang ingin didengar.

Lebih dari Sekadar Pelatihan

Di akhir hari, yang kami bawa pulang bukan hanya catatan materi. Kami membawa cara pandang baru.

Bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi juga tentang membedakan fakta dan asumsi.
Bahwa kerja tim bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita saling melengkapi.
Dan bahwa dalam setiap interaksi, selalu ada kesempatan untuk memilih: menghakimi atau memahami.

In-house training ini menjadi pengingat bahwa perjalanan kami sebagai sebuah yayasan tidak hanya tentang melayani keluar, tetapi juga terus bertumbuh ke dalam.

Karena ketika tim bertumbuh, dampak yang dihasilkan pun akan semakin luas.

Dan pada akhirnya, itulah yang kami harapkan— Rumah Impian yang tidak hanya hadir untuk anak-anak, tetapi juga dibangun oleh tim yang terus belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.