Blogs

Mendedah Kultur Egoisme Di Balik “Memberi Receh”

 Kartika Primasanti

 

“Anytime there is a struggle between doing what is actually right and doing what seems right, then your ego is interfering with your decision” (Darren L. Johnson).

 

Tidak  banyak orang yang tahu, apa yang dilakukan anak jalanan pada lingkar habitusnya. Namun, wacana “Stop memberi uang receh pada anak jalanan,” yang sejatinya adalah keniscayaan, masih jua menjadi perdebatan. Di Sudan, riset menunjukkan bahwa sebagian besar waktu anak jalanan habis demi “…eating, sucking glue-soaked rags, obtaining money, and sometimes movies or games” (Kudrati et al, p. 439). Di belahan bumi lain, seorang homeless yang penulis temui di pinggiran California bertutur bahwasanya uang hasil mengiba diagunakan untuk membeli minuman keras. Dia menjelaskan, kehidupan seperti yang dia jalani saat ini (di jalanan), sulit dilepaskan dari budaya “mabuk.” Bahkan, dalam perspektif global, sejak tahun 1998, kajian Roux et al telah mendokumentasikan bahwa konsumsi obat dan “glue, petrol/ gasoline” menjadi kegiatan rutin anak-anak di jalanan. Kesaksian anak-anak jalanan yang didampingi rekan-rekan dari LSM Rumah Impian di Yogyakarta juga menunjukkan bahwa sebagian besar uang yang anak-anak itu dapat dari meminta-minta dihabiskan untuk minuman keras, ngelem, dan hal-hal negatif lainnya.

 

Memenjara Anak Jalanan

Jika seorang anak terpaksa menjadi anak jalanan, itu adalah karena mereka masih anak-anak yang frame of knowledge dan field of experience-nya masih rendah. Seperti anak-anak pada umumnya, bagi anak jalanan, apa yang ada di habitus mereka, itulah yang menjadi sumber utama pembelajaran hidup. Studi Roux et al (1998) atas anak jalanan secara global menyatakan bahwa anak jalanan menganggap diri mereka memiliki kebebasan yang sejati, khususnya untuk meminta-minta. “They live by their wits and survive by begging or performing ‘pseudo-services,’ such as carrying shopping bags and directing motorists into parking spaces” (p. 683). Hal semacam ini membentuk mental anak jalanan sebagai “yang butuh dikasihani.” Alhasil, pada anak-anak jalanan, secara tidak disadari terbentuklah low self-esteem atau harga diri yang rendah. Namun, lebih mengejutkan, menurut Roux, hal ini pula yang membentuk mental masyarakat sebagai pihak yang melulu “mengasihani.” Dengan demikian, terbentuklah dua kutub ekstrim antara “yang mengasihani” dan “yang dikasihani.” Di lapangan, hal ini bisa diterjemahkan dengan “yang diberi uang” dengan “yang memberi uang,” jika tidak mau dikatakan lebih ekstrim sebagai “yang terpenjara” dan “yang memenjara.” Jika salah satu pihak tidak dapat menggeser cara pembacaan fenomena yang salah ini, maka dua kutub ini akan tetap eksis. Sebagai konsekuensi logis, anak-anak jalanan akan tetap ada pada lokusnya: dalam penjara ketidakmengertian.

Merujuk pada argumen bahwa anak-anak jalanan hidup dalam ketidakmengertian mereka, khususnya mengenai identitas diri, maka seyogyanya masyarakatlah yang mengubah cara pandang berikut respon mereka terhadap anak jalanan. Memberi uang receh kepada anak jalanan adalah tindakan memenjara mereka pada ekstrim mentalitas seorang peminta-minta. Jika dengan tetap memberi maka kita menempatkan anak jalanan dalam penjaranya, bukankah hal ini laik disebut egois?

 

Melawan Kultur Egoisme

Banyak kajian mempersoalkan keberadaan anak jalanan sedangkan persoalan siapa yang mempertahankan kedudukan anak jalanan itu acapkali dinegasikan. Egois, jika kita tidak berkaca diri bahwasanya oleh kitalah eksistensi anak jalanan bertahan. Jika dengan memberi receh kepada anak jalanan adalah upaya untuk tetap menempatkan mereka pada penjaranya, kenapa kita tetap melakukannya atau paling tidak memperdebatkannya?

Belas Kasihan.Argumen ini menjadi ide utama ketika bersoal-jawab dengan wacana “stop memberi uang kepada anak jalanan.” Seorang penulis, Darren Johnson mengatakan bahwa selalu ada pedebatan ketika membedakan yang benar dengan yang sepertinya benar. Lalu, sebuah tanya muncul: “Bagaimana jika anak jalanan ini ternyata memang membutuhkan uang untuk hal yang baik, misalnya untuk kesehatan, sekolah, dll?” Jika memang seseorang berpikir sedalam itu mengenai memberi untuk anak jalanan, bijaknya adalah mendekati anak tersebut, menanyakan latar belakangnya, menjalin hubungan dengan dia sehingga mengetahui secara pasti bagaimana uang itu akan digunakan. Namun, apakah benar, upaya semacam ini diperlukan? Logisnya, jika anak ini seperti yang dipikirkan, mungkinkah mereka berada di jalanan? Semoga wacana pemenjaraan anak jalanan di atas menjadi referensi untuk merenungkan yang sejatinya benar dilakukan untuk anak jalanan. Kudrati (2008) mengajurkan pentingnya untuk memahami bahwa upaya kita adalah untuk mengeluarkan anak-anak dari jalanan, bukan membuat mereka semakin nyaman hidup di sana.

 

Memberi sebagai Ibadah

Agama apa pun setuju bahwa setiap orang perlu beribadah. Bagi beberapa orang, memberi secara langsung kepada anak jalanan itu adalah ibadah. Apalagi, hal ini lebih mudah dilakukan dari pada harus mengurus bantuan ke yayasan atau LSM tertentu. Selain itu, membantu anak jalanan dengan meninggalkan Rp 500,- adalah tidak serumit dibandingkan dengan

memikirkan berapa ratus ribu pengeluaran yang harus dialokasikan untuk menyumbang ke sebuah yayasan. Sesungguhnya, jika kita cermat, beberapa yayasan yang menangani anak jalanan mulai bergerak dengan sungguh-sungguh untuk membantu kita menyalurkan kasih kita dengan bersahaja—artinya, sesuai dengan pemikiran dan kemampuan masyarakat sendiri. Di Yogyakarta saja, ada banyak lembaga (LSM) yang bermisi mentransformasi anak-anak jalanan, LSM Rumah Impian, salah satunya. Berdiskusi dan mengenal LSM-LSM ini dengan lebih dekat bisa menjadi alternatif yang baik untuk menyalurkan bantuan kita bagi anak-anak jalanan. Tentunya, jika kita sungguh-sungguh peduli.

 

Afirmasi Sosial

Ini adalah muncunya perasaan tenang secara sosial bahwa kita telah berbuat sesuatu meskipun sederhana dengan memberi uang receh pada anak jalanan. Secara psikologis, perasaan ini akan menempatkan individu pada rasa nyaman karena telah memberi. Bagaimana pun juga, peribahasa “lebih baik memberi dari pada menerima” masih berlaku bagi kultur timur. Memikirkan dampak yang berkepanjangan dari afirmasi sosial ini, kita perlu melatih diri untuk tidak egois dengan membiarkan anak-anak jalanan tetap terpenjara pada habitusnya sementara kita berdiang dalam ketenangan sosial dan psikologis. Tampaknya janggal. Tapi tidak berhenti di situ. Kenapa? Karena kita dapat mengekspresikan kasih kita dengan bijaksana, dengan melihat dampak jangka panjang, dan dengan memikirkan dampak jangka pendek bagi anak-anak jalanan yang menerima pemberian kita.

Penulis pikir, cukup jelas bahwasanya kultur egoisme di balik “memberi uang receh” turut melanggengkan eksistensi anak-anak jalanan. Logikanya, perlu adanya perlawanan terhadap kultur ini. Dengan keinginan untuk menyelami fenomena dan dampak memberi uang receh; mengkaji alternatif-alternatif yang potensial; serta turut berwacana dalam diskusi serupa juga menolong lebih banyak orang untuk mengerti visi di balik “stop memberi uang receh pada anak jalanan.” Selalu ada pergumulan ketika akan melakukan apa yang benar-benar baik dengan apa yang tampaknya baik, dan di antara keduanya, bersiaplah ego kita menentukan hasil akhirnya.

 

*  Staf pengajar di Universitas Kristen Petra Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *