Uncategorized

Si Kecil dari Prambanan

“Kalau sapi sing ning lapangan kuwi yo gedhe, wernane putih, anakke yo gedhe.”
Celoteh seorang bocah di bawah jembatan. Anak ini begitu ceria dan bersemangat dalam menceritakan berbagai hal yang ia temui di sekitarnya. Rara gadis yang cantik dan selalu ceria ini telah menginjak umur lima tahun, umur dimana seorang anak bisa menyerap berbagai hal dengan sangat cepat, tingkat ingin tahunyapun berkembang pesat. Namun dalam pertumbuhan yang rentan ini Rara bersama Ibunya, hidup di bawah jembatan yang tentunya bukan tempat yang pantas untuk dirinya bahkan pertumbuhannya. Memulung menjadi pilihan yang dirasa tepat oleh Ibu dari Rara, dan tentunya bukan hal tepat bagi pertumbuhan diri Rara. Sehari-harinya Ibu Rara berkeliling mencari barang yang bisa dipungut dan Rara turut ikut bersamanya, agar ketika bermain-main Rara tidak lepas dari pengawasan Ibunya.

Pada awal perjumpaan kami dengan Rara, dia masih tampak malu-malu untuk bertemu, karena sikapnya yang masih tertutup saat itu, kami mencoba berbincang-bincang sedikit dengan Ibunya Rara. Dari info yang kami dapat dari Ibunya Rara, Rara ternyata sangat ingin bersekolah.

“Rara sering kesepian di sini. Masalahnya tidak ada teman sebaya yang bisa diajak bermain.” Cerita Ibunya.
Ketika kami melihat situasi sekitar, ternyata di dekat tempat mereka berteduh, terdapat sebuah kampung, tak jarang beberapa warga termasuk anak-anak menghabiskan sore disana, entah itu hanya untuk sekedar memancing, hingga keperluan MCK. Namun tak satupun diantara mereka menggubris keberadaan Rara dan keluarganya. Jelas dengan melihat keadaan seperti ini, Rara merasa begitu kesepian. Hal ini terbukti ketika kami melakukan kunjungan selanjutnya Rara yang awalnya malu-malu mulai terlihat bersemangat karena mungkin kami dirasa sebagai temannya. Sering kali ibu Rara mendapati Rara sedang mengamati anak-anak yang berseragam sekolah sedang berjalan hendak pulang ke rumah mereka masing-masing. Rara bahkan sering meminta kepada Ibunya beberapa keperluan sekolah yang ditemukan di barang-barang rongsokan.

“Dia pingin sekolah Om. Itu kemarin dia minta sepatu yang saya dapet dari rongsok. Untuk sekolah katanya.” Cerita ibu Rara. Kami pun juga melihat kemauan yang besar itu dari dalam diri Rara setiap kami berkunjung.

“Oom, bukunya kemarin di mana ya?” tanya Rara
Pertanyaan itu membuat kami terkejut betapa bersemangatnya dia untuk menimba ilmu. Rara merupakan anak yang cerdas menurut kami, dia sangat cepat dalam menangkap materi pelajaran, dalam tiga kali kunjungan kami, ia sudah mampu untuk menghafal huruf dan angka, menakjubkannya lagi dia sudah mampu berhitung walaupun baru sedikit. Dukungan dan kerjasama dari Ibu Rara menjadi apresiasi tersendiri bagi kami, karena ternyata Rara dan Ibunya sering belajar bersama di sela-sela kegiatan mereka. Oleh karena itu tidak cukup sulit bagi kamu untuk mendampingi Rara mempersiapkan untuk sekolah nanti. Tidak hanya dalam berhitung, namun pengetahuan mengenai warna dan bentuk juga cepat diserap oleh Rara. Sempat suatu ketika kami mencoba mengajak Rara untuk bercerita tentang hal-hal yang diketahuinya dengan detail dan bentuk yang dia maksudkan, terlihat dirinya begitu antusias dalam bercerita.

“Om, aku tau ini. Ini wedhus kan om? Kemarin aku lihat di kampung sana, di kandang.” Cerita Rara sembari menunjuk buku gambar yang kami bawa.
“Warnanya putih, mangane suket to om? Ada di lapangan juga lho om.” Lanjutnya
Kini sudah sebulan Rara didampingi Rumah Impian agar mendapatkan hidup yang lebih baik bagi perkembangannya, dengan harapan dia bisa menjadi anak yang tumbuh seperti anak-anak pada umumnya, yang memiliki cita-cita serta ambisi untuk terus hidup lebih baik.

Itulah kisah Rara, si kecil manis. Hidupnya dalam kesunyian kolong jembatan, dan gemuruhnya kendaraan di jalanan tidak akan bisa menghapus segala semangat dan tawanya untuk kehidupan yang lebih baik.

Si Kecil dari Prambanan sudah lulus TK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *