Di Asrama CCC Laki-laki Yayasan Rumah Impian Indonesia, obrolan santai sore itu bukan obrolan biasa. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari komitmen kami dalam memberikan pendidikan seksual yang komprehensif dan mudah dipahami bagi anak-anak asrama. Dengan metode ngobrol ringan, pekerja sosial (Peksos) kami, Raka Galih Sajiwo, mengajak delapan anak untuk mendiskusikan pentingnya menjaga pergaulan dan memahami efek penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini diikuti oleh IQ, YN, DI, TH, YG, DS, BG, dan AF. Antusiasme mereka terlihat jelas saat menyampaikan pandangan tentang hal-hal yang “boleh” dan “tidak boleh” dilakukan, sebuah refleksi dari pemahaman yang mulai terbentuk.
Menyaring Pemahaman: Dari Anak-Anak untuk Anak-Anak
Yang menarik dari sesi ini adalah proses di mana anak-anak secara aktif menyuarakan pemahaman mereka. Berikut adalah beberapa poin penting yang mereka sampaikan:
Menjaga Diri dan Hormat pada Orang Lain: Banyak anak, seperti IQ, DI, YG, dan BG, sepakat bahwa melakukan pelecehan seksual adalah hal yang mutlak dilarang. Mereka juga menyadari pentingnya tidak menyebar konten tidak pantas dan tidak memegang lawan jenis tanpa izin.
Bijak dalam Pergaulan dan Hubungan: Beberapa anak, seperti YN dan TH, menyebutkan pentingnya berpacaran atau berhubungan “sewajarnya”, saling mengerti, dan tidak menyakiti. Yogi menambahkan larangan untuk tidak kawin di usia anak.
Kewaspadaan di Dunia Digital: Ancaman dari gadget dan internet sangat disadari. TH dan YG menyebutkan bahaya menonton video porno, mengirim pap sembarangan, serta mengakses konten buruk dan “judi slot”. Mereka juga memahami pentingnya menonton konten (seperti TikTok) sesuai batas usia.
Aktivitas Pengalihan yang Positif: Anak-anak seperti DI menyadari bahwa melakukan aktivitas positif seperti bermain sepak bola bisa menjadi pengalihan yang sehat. Iqbal juga menghubungkan kekuatan iman dan ibadah sebagai benteng diri.
Agar pesan sampai dengan jelas, Peksos menggunakan bahasa yang langsung dan mudah dimengerti. Pendekatan ini terbukti efektif untuk membangun pemahaman yang konkret di benak mereka. Harapannya, pemahaman ini dapat diaplikasikan dalam interaksi dan keputusan sehari-hari.
Rencana Tindak Lanjut
Mengingat urgensi pendidikan seksual remaja di era digital ini, Yayasan Rumah Impian Indonesia berkomitmen untuk terus menyelenggarakan intervensi serupa secara berkala. Pendidikan yang berkelanjutan adalah kunci untuk membentuk remaja yang tidak hanya terlindungi, tetapi juga tumbuh dengan tanggung jawab dan respek terhadap diri sendiri serta orang lain.
Kami percaya, dengan pendampingan yang tepat, setiap anak berhak mendapatkan pemahaman yang benar tentang tubuh, pergaulan, dan keamanan digital mereka. Ini adalah bagian dari misi kami untuk membangun generasi yang lebih sehat dan berdaya.
