CeritaHope Shelter

Bukan Lagi Mengejar Receh

Perkenalkan: RPL. Sepuluh tahun yang lalu, dia berpindah dari satu bus ke bus yang lain, mengamen untuk mendapatkan sedikit uang receh dari para penumpang. Hari ini, dia menyelesaikan pendidikan SMK nya, dengan nilai yang sangat memuaskan, bahkan termasuk salah satu yang terbaik di sekolahnya.

RPL adalah gadis yang unik. Ketika kami pertama kali bertemunya tahun 2010 di perempatan Jombor, Sleman, dia belum genap berusia sembilan tahun. Dia harus hidup di jalanan karena keluargnya kehilangan semua harta mereka karena masalah judi. Ketika ditawarkan untuk kembali ke sekolah lewat program Hope Shelter kami (beasiswa dan asrama), dia setuju. Mungkin karena setahun sebelumnya kami juga telah menolong kakaknya kembali ke sekolah.

Ketika mendaftarkan dia ke sekolah, kami mendapat masalah. RPL tidak mempunyai dokumen/surat apapun berkaitan status kependudukannya. Oleh karena itu tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Setelah bernegosiasi dengan sebuah sekolah di Sleman, dia akhirnya diterima sebagai siswa pendengar. Itu artinya, dia dapat masuk seperti layaknya siswa sekolah itu, namun dia tidak terdaftar secara resmi sebagai siswa yang nantinya berhak mendapat ijazah. Kami menyetujui hal itu, karena tidak ingin mematahkan semangatnya.

Setelah satu semester berlalu, Kepala sekolah yang menerima RPL menelpon kami dengan sebuah kabar yang mengejutkan. Sekolah itu memutuskan untuk menerima RPL sebagai siswa penuh. Alasannya karena kecerdasannya melampaui kemampuan kecerdasan siswa-siswa lain di kelasnya. Ketika itu dia berada di kelas 3 SD.

Kami juga kemudian berusaha dan berhasil mendapatkan dokumen kependudukan baginya, terutama akta kelahiran dan NIK. Sekolah pun membantu sehingga dia bisa memperoleh nomor induk siswa.

Ketika tamat SD, RPL adalah yang terbaik kedua di sekolahnya. Di SMP pun dia tetap fokus dengan studinya, dan berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Hari ini dia menunjukkan kepada saya nilai ijazahnya, dan nilai rata-ratanya di atas 85 (skala 100).

Jalan RPL menuju sukses masih panjang. Dia ingin bekerja sesuai dengan jurusannya di SMK, yaitu teknik kimia. Masih banyak kerja keras yang dia harus lalui, dan banyak pergumulan dan tantangan yang sudah menunggu. Akan tetapi saya percaya kepadanya. Jika 10 tahun yang lalu dia rela bekerja keras demi sedikit uang receh, tekadnya untuk masa depan yang lebih baik tentulah lebih kuat lagi.

Dukungan yang Anda berikan kepada Yayasan Rumah Impian Indonesia (Dreamhouse) akan membantu anak-anak yang seperti RPL. Di luar sana masih banyak anak yang menanti kesempatan untuk kembali ke sekolah, untuk tidak lagi mengejar receh, tetapi mengejar impian masa depan yang gemilang. Mau bergabung dengan kami?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *