Bagaimana sebuah pendampingan yang berkelanjutan dapat membangun kepercayaan diri, mengembangkan bakat, dan memperkuat ikatan antara ibu dan anak angkat dalam perjalanan transformasi mereka.
Sepuluh Tahun Bersama Yayasan Rumah Impian Indonesia: Sebuah Perjalanan Penuh Makna
Suatu sore yang cerah, Ibu DW dan anak angkatnya, SL, duduk dengan penuh semangat menceritakan perjalanan panjang mereka bersama Yayasan Rumah Impian Indonesia (Dreamhouse). “Kurang lebih 9-10 tahun yang lalu,” ujar Ibu DW dengan senyum lebar. Sejak itu, hidup mereka tak lagi sama. Dari kekhawatiran awal hingga menjadi keluarga yang penuh dukungan, kisah ini adalah bukti nyata dampak dari pendampingan berkelanjutan bagi anak dan orang tua.
Awal Mula: Dari Kekhawatiran Menjadi Kepercayaan
Cerita dimulai ketika tim Dreamhouse tiba-tiba datang ke desa mereka. “Kami panik, dikira diculik atau apa?” kenang Ibu DW sambil tertawa. Saat itu, anak-anak diajak bermain futsal dan kegiatan seru lainnya. Kekhawatiran awal itu segera berubah ketika mereka menyadari niat baik organisasi ini. “Akhirnya saya kasih arahan, lebih baik lapor ke Pak RT dulu,” lanjutnya. Dari situ, kolaborasi yang solid terbangun antara Dreamhouse dengan masyarakat setempat.
SL: Dari Pemalu Menjadi Percaya Diri
SL, yang kini duduk di kelas 3 SMP, masih ingat betul pertama kali bergabung. “Masih ingat. Tertarik sih, penasaran. Eh, ternyata seru juga!” ujarnya dengan mata berbinar. Gadis yang memiliki bakat seni ini menemukan wadah yang tepat untuk mengembangkan potensinya di Dreamhouse. “Sebelumnya udah suka seni, tapi di sini jadi berkembang,” tambahnya. Kini, SL bahkan bercita-cita untuk masuk SMK di bidang kecantikan (MUA) dan seni.
Fakta Menarik: SL adalah anak angkat Ibu DW, yang dengan penuh kasih merawatnya meski berbeda keyakinan. “Saya tidak pernah mengkristenkan anak ini. Saya sayang sama dia,” tegas Ibu DW. Komitmen ini menunjukkan bahwa cinta dan hak anak melampaui segala perbedaan.
Parenting yang Memberdayakan: Tidak Hanya untuk Anak
Salah satu aspek terpenting dari program Dreamhouse adalah pelatihan parenting untuk orang tua. Ibu DW dengan antusias menjelaskan, “Setiap pertemuan temanya beda-beda, narasumbernya berbeda-beda. Tempatnya juga berpindah-pindah.” Ini memberikan ruang bagi para ibu untuk tidak hanya belajar, tetapi juga refreshing dari rutinitas.
“Tanpa Dreamhouse mungkin rapuh loh kita,” aku Ibu DW. “Saya menjadi lebih berani, punya prinsip mendidik anak yang lebih baik, dan belajar metode parenting yang sesuai dengan generasi sekarang.”
Transformasi yang Signifikan: Mental Kuat dan Percaya Diri
Ketika ditanya tentang perubahan paling signifikan, Ibu DW tanpa ragu menjawab, “Mental yang kuat!” Terutama bagi SL sebagai anak perempuan di era yang penuh tantangan. “Saya sangat bersyukur Dreamhouse memberi parenting, memberi edukasi… anak ini mentalnya sudah bagus untuk percaya diri.”
SL sendiri mengaku bahwa kegiatan public speaking yang diikutinya sangat berkesan. “Jadinya aku jadi lebih percaya diri,” ujarnya. Keyakinan inilah yang kini membawanya berani bercita-cita tinggi dan mengembangkan bakat seninya.
Harapan dan Pesan untuk Masa Depan
Harapan Ibu DW untuk SL:
“Setidaknya bisa menjadi anak yang mentalnya tetap kuat… menjadi anak yang berprestasi, sukses, dan bisa menata dirinya sendiri.”
Harapan SL:
“Mudah-mudahan Mama bisa membimbing aku sampai besar.”
Pesan Ibu DW untuk Orang Tua Lain:
“Pendidikan untuk anak tidak harus dengan metode lama… setiap generasi berbeda. Lebih baik introspeksi dulu dari orang tua. Ajak anak ngobrol empat mata, buat perjanjian bersama.”
Pesan SL untuk Teman-Teman Sebaya:
“Enggak usah malu buat ngomong di depan umum. Kuncinya percaya diri!”
Harapan untuk Dreamhouse
Ibu DW berharap Dreamhouse bisa “lebih perluas lagi wilayahnya dalam merangkul anak-anak” dan “lebih diperbanyak lagi jiwa-jiwa muda yang merangkul anak-anak sekelilingnya.”
Kesimpulan: Hak Anak adalah Prioritas
Perjalanan 10 tahun Ibu DW dan SL mengajarkan kita tentang pentingnya empat hak anak: hak berpartisipasi, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak keberlangsungan hidup. Seperti kata Ibu DW, “Cara mendidik anak tidak boleh disamakan dengan zaman ketika kita dididik orang tua kita.”
Yayasan Rumah Impian Indonesia terus berkomitmen untuk menjadi wadah bagi anak-anak seperti SL untuk berkembang, dan bagi orang tua seperti Ibu DW untuk belajar dan tumbuh bersama anak-anak mereka.
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, dan tugas kitalah untuk menemukan cara yang tepat agar setiap potensi dapat bersinar dengan gemilang.
Artikel ini diadaptasi dari wawancara dengan Ibu DW dan SL, peserta program Yayasan Rumah Impian Indonesia selama 10 tahun
