CeritaStreet Contact

Aku Enak Di Sini (Selamat Jalan Paimo)

Oleh Sammy Ladh

We real cool. We
Left school. We

Lurk late. We
Strike straight. We

Sing sin. We
Thin gin. We

Jazz June. We
Die soon.

Saya teringat pada puisi “The Pool Players” karya Gwendolyn Brooks ini ketika mendengar kabar meninggalnya seorang anak jalanan yang selama ini kami dampingi.

”Paimo”, begitu kami biasa memanggilnya. Umurnya baru 14 tahun. Dia meninggal dunia karena overdosis obat tadi malam. Saya masih ingat dengan sangat jelas saat-saat ketika dia tinggal di rumah singgah kami dulu. Dia agak pendiam, tapi lumayan keras kepala. Meski begitu dia anaknya cerdas. Ini dibuktikan dengan nilai-nilainya di sekolah yang lumayan baik, sebelum dia akhirnya keluar setelah kedua orangtuanya bercerai. Dia juga sangat suka bermain sepakbola, dan dia adalah pemain bola yang lumayan baik. Dia juga pandai bernyanyi. Ketika pertama kali bertemu dengannya, kami sepakat bahwa yang harus segera kami usahakan adalah mengembalikan dia ke sekolah. Namun setelah semakin mengenalnya, kami menemukan bahwa dia sama sekali tidak tertarik untuk kembali ke sekolah.

“Aku enak kok di sini. Jalanan ini rumahku.” Dia menikmati kehidupannya di jalanan. Mengamen dan meminta-minta, lalu menghabiskan uangnya pada narkoba. Berulangkali kami mencoba mengingatkan dia, tapi dia tidak pernah peduli. Ketika kami bersikap agak keras, dia malah kabur dari rumah singgah kami.

Tadinya saya sempat lega saat mendengar dia pindah ke Kalimantan menyusul ibunya yang bertransmigrasi ke sana. Namun saya juga tidak terlalu terkejut ketika sebulan sesudahnya, saya kembali menemukan dia di jalanan Jogja. Dia kabur lagi dari keluarganya. Dia masih suka datang ke acara kami setiap minggu, dan kadang bermain bola bersama kami. Akan tetapi, tetap saja, kembali ke sekolah dan kembali ke keluarga, adalah sesuatu yang tidak dipikirkannya. “Aku enak kok di sini”, saya masih bisa mendengar kata-katanya, ketika hari ini saya menjenguk dia untuk yang terakhir kali di ruang jenazah. Dan saya tidak tahu harus berkata-kata apa. Selamat jalan Paimo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *