Berita

Workshop Metode Pendampingan Anak Jalanan dan Rancangan Pembuatan Perpustakaan Keliling Rumah Impian

 

Pada tanggal 8 dan 9 September 2020 yang lalu, pengurus Yayasan Rumah Impian Indonesia telah melaksanakan Pelatihan Pembuatan Perpustakaan Keliling (Mobile Library). Pelatihan ini diadakan bersama dengan sejumlah tenaga ahli dari Departemen Pendidikan Bahasa Inggris dan Departemen Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Pelatihan tersebut berlangsung selama dua hari.

Dalam pelatihan ini, para pengurus Yayasan Rumah Impian Indonesia mendapatkan materi mengenai pengembangan metode pendampingan yang baik, kreatif, dan menyenangkan bagi anak-anak jalanan dan berisiko. Para pengurus juga diajarkan perancangan konsep perpustakaan keliling yang nantinya akan menjadi acuan dalam program Pembuatan Perpustakaan Keliling (Perpusling) Rumah Impian. Perpusling tersebut saat ini sedang dalam tahap pengerjaan.

Dalam pelatihan hari pertama, Arida Susyetina, S.S., M.A. selaku pemateri memberikan pemaparan mengenai informasi seputar keadaan dan kondisi terkini anak jalanan di Indonesia, secara khusus di Yogyakarta. Beliau juga mengajak para dream mentor untuk mendiskusikan mengenai upaya apa saja yang telah dilakukan dalam membantu penanggulangan masalah anak jalalan di bawah program pendampingan Rumah Impian yang telah dijalankan selama ini. Di akhir sesi, pemateri membagikan sejumlah ide-ide menarik dan inovatif yang dapat dijalankan dalam melakukan kegiatan pendampingan anak di jalanan beserta sampel media dan alat permainan yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan.

Pada hari kedua, Christmastuti Nur, S.Ds., M.Ds selaku pemateri memulai pelatihan dengan menjelaskan proses perancangan konsep dasar perpustakaan keliling dan tujuan dari pengadaan program tersebut. Pemateri yang juga pernah menjadi relawan di Rumah Impian menjelaskan bahwa produk akhir dari pelatihan hari ini adalah pembentukan konsep perpustakaan keliling yang baik dan fungsional serta dapat menjawab permasalahan pemenuhan fasilitas belajar bagi anak-anak dampingan di jalanan.

Pemateri kemudian membagi para dream mentor ke dalam sejumlah kelompok kecil. Setiap kelompok ditugaskan untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dalam proses pendampingan anak-anak di seluruh lini kegiatan yang pernah mereka temukan dan kemudian dituliskan dalam lembar-lembar post-it yang telah disediakan. Permasalahan-permasalahan yang telah ditemukan tersebut kemudian akan dibahas dalam sesi “Round-Robin Brainstorming” dimana masing-masing dream mentor diharuskan untuk memberi solusi atas masalah yang terkumpul lewat ide-ide sederhana hingga kompleks yang tidak boleh dikritik oleh anggota lain. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan para dream mentor kesempatan berpikir di luar batasan yang selama ini mungkin menghalangi mereka untuk menerapkan metode pendampingan yang solutif dan inovatif. Setiap ide dan gagasan yang terkumpul kemudian digolongkan dalam kelompok-kelompok ide dengan kausal permasalahan yang sama yang nantinya kemudian akan dibahas secara bersama-sama secara keseluruhan.

Dari proses pengumpulan permasalahan, secara umum ditemukan kelompok-kelompok besar jenis permasalahan dalam kegiatan pendampingan oleh para dream mentor Rumah Impian terhadap anak di jalanan. Kelompok-kelompok tersebut adalah: keterbatasan sumber daya manusia, regulasi aktivitas pendampingan oleh pemerintah daerah dan pusat, alokasi anggaran, mobilitas aktivitas, inefesiensi aktivitas, variasi aktivitas, serta pengaruh kondisi lingkungan sekitar bagi kegiatan pendampingan. Dari kelompok-kelompok tersebut, pemateri kemudian memilah kembali jenis masalah berdasarkan kelompok entitas yang berwenang dalam menyelesaikan permasalahan, yakni: Rumah Impian sebagai pengelola, pemerintah, dan pihak ketiga yang dalam hal ini membantu dalam perwujudan program Pembuatan Perpustakaan Keliling Rumah Impian.

Dalam pembahasan mengenai permasalahan fasilitas belajar dalam kegiatan pendampingan anak jalanan, seluruh dream mentor bersama pemateri kemudian membentuk konsep perpustakaan keliling di sesi berikutnya. Pembentukan konsep perpusling akan didasarkan pada permasalahan yang telah dikerucutkan, kebutuhan dasar anak jalanan di beberapa wilayah dampingan, serta kesediaan Rumah Impian secara finansial. Pada akhir sesi dari pelatihan hari kedua, para dream mentor dan pemateri yang juga akan berperan sebagai perancang produk utama dalam pembuatan perpustakaan keliling menyepakati satu bentuk dari perpusling yang akan dibuat setelah pelatihan. Meski demikian, dalam proses pembuatan rancangan perpusling ke dalam bentuk desain konkrit nanti, setiap dream mentor dapat tetap memberikan saran dan masukan yang mungkin dapat membuat rancangan perpusling semakin baik dan sesuai dengan tujuannya. Dengan demikian, harapan Rumah Impian untuk dapat menjalankan program belajar bagi anak-anak jalanan ini dapat terlaksana dengan tepat sasaran serta memberi dampak kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *